Kamis, 22 Februari 2018 | 11:44 WIB | Penulis : Web Admin
Dibaca : 695

USAHA PETERNAKAN PERLU ADAPTASI HADAPI PERUBAHAN IKLIM


adaptasi perubahan iklim


Saat di Sekolah Dasar dulu kita diajarkan bahwa musim penghujan di Indonesia terjadi sekitar bulan Oktober sampai dengan Maret. Dan bulan yang lainnya kemungkinannya adalah musim panas. Namun apakah saat ini yang kita rasakan masih tetap demikian ? Apakah suhu panas beberapa hari  diatas 36°C dan adanya hujan es di beberapa wilayah merupakan hal yang wajar ?

Menurut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), Perubahan Iklim adalah perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang mengubah komposisi atmosfer secara global dan mengakibatkan perubahan variasi iklim yang dapat diamati dan dibandingkan selama kurun waktu tertentu. Menurut laporan terbaru dari NASA/GISS (2015), suhu global terus mengalami kenaikan sebesar 0,68 °C  dari tahun 1880 sampai dengan tahun 2014.

Peningkatan suhu global rata-rata secara tidak langsung akan mempengaruhi perubahan iklim di bumi. Ditandai dengan mencairnya sebagian  es yang berada di kutub utara dan kutub selatan Bumi, sehingga menyebabkan peningkatan air laut, menipisnya lapisan ozon. Kemudian akan terjadi ketidakstabilan musim dan iklim di dunia, terjadinya El nino, hingga munculnya berbagai wabah  penyakit. Di Indonesia sendiri, terjadi perubahan musim yang tidak menentu.

Mencermati perubahan tersebut, tahun 2016 Kementerian PPN/Bappenas menandatangani dokumen kerjasama Adaptasi Perubahan Iklim dengan Ministry of the Environment Japan (MoEJ). Dokumen tersebut ditandatangani oleh Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas, Endah Murniningtyas dan Vice Minister MoEJ, Masaaki Kobayashi. Menurut Endah, kerjasama ini diperlukan untuk memfasilitasi dan mendukung capacity building untuk menghadapi dampak perubahan iklim, dan adaptation strategy ini sesuai dengan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API). Dampak perubahan iklim sangat besar mempengaruhi kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pada Rabu (21/2) kemarin, dilaksanakan Workshop Adaptasi Perubahan Iklim di Jawa Timur. Workshop yang dilaksanakan di Swiss Bellin Tunjungan Surabaya tersebut merupakan rangkaian kegiatan kerjasama Adaptasi Perubahan Iklim. Tim tenaga ahli yang melaksanakan workshop adalah perwakilan dari The University of Tokyo, National Institute for Environmental Studies, Ibaraki University,  Nippon Koei,  Udayana University, dan IPB. Selain memaparkan prediksi dan analisis perubahan iklim, Tim membutuhkan masukan terkait isu dan desain yang telah dipaparkan. Pimpinan tim, Dr. Kensuke Fukushi, menilai perubahan iklim merupakan isu yang kompleks namun sangat terkait dengan isu-isu lokal, sehingga dibutuhkan kerja sama multi-pihak untuk menghasilkan solusi.

Menurut analisis, perubahan iklim akan sangat berdampak pada sektor pertanian. Hal ini dikarenakan adanya perubahan cuaca dan curah hujan. Diprediksi perubahahan iklim juga akan berdampak pada ternak. Gelombang panas dapat menyebabkan stres panas dan kerentanan terhadap penyakit. Oleh karena baik pemerintah, swasta maupun masyarakat diharapkan untuk melakukan tindakan preventif, seperti peninjauan ketahanan bibit ayam ras, penggunaan parasitisida, maupun efisiensi pakan. Pembuatan hay dan silase sangat disarankan untuk peternak ruminansia, sehingga pada saat musim kemarau tidak ketergantungan pada hijauan segar.

 

Sumber: DISNAK JATIM