Kolom Opini Anda adalah kolom yang kami sediakan bagi Anda yang ingin memberikan opini untuk kemajuan peternakan nasional atau Jawa Timur.
Ketentuan panjang artikel/opini yang dikirimkan antara 400 hingga 500 kata. Artikel dapat dikirim ke alamat e-mail disnak@jatimprov.go.id
Dalam mengirimkan opini harap mencantumkan nama lengkap, profesi dan alamat tempat tinggal

Senin, 5 Agustus 2013 | 13:04 WIB | Penulis : Web Admin
Dibaca : 4028

BALAI PETERNAKAN SOMALANG KECAMATAN PAKONG KABUPATEN PAMEKASAN (TAMAN AGROWISATA BUMI SOMALANG) (DULU, KINI DAN YANG AKAN DATANG)


BANGUNAN BALAI PETERNAKAN SOMALANG TAMPAK DEPAN

Oleh : Ir. Santoso Tohar, MT
Kepala Bidang Produksi Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan

A. SEJARAH PERKEMBANGAN BALAI

Balai Peternakan Somalang, Kecamatan Pakong, Kabupeten Pamekasan, Madura dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1944, satu tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun 1948 dengan bantuan Pemerintah Belanda pembanmgunannya dilanjutkan kembali oleh pemerintah RIS. Balai yang menpunyai luas 5 hektare lebih ini, tercatat dalam sejarah peternakan di Indonesia sebagai salah satu perintis pengembangan program Inseminasi Buatan sejajar dengan Balai Inseminasi Buatan Lembang di Jawa Barat dan Balai Peternakan Ungaran di Jawa Tengah. Balai yang berlokasi l5 km kearah utara Kabupaten Pamekasan terletak di Kecamatan Pakong. Termasuk wilayah dataran tengah perbukitan berhawa sejuk dan kaya akan sumber air.

Dilihat dari bahan dan bentuk bangunan masih terlihat jelas sisa “kejayaan” balai ini. Kantor, kandang utama, perumahan karyawan dan sisa fasilitas bangunan yang kuat dan kokoh menjadi saksi bisu tak terbantahkan bahwa ditempat ini ada jejak sejarah pembamngunan Peternakan di Indonesia. Konon bapak Drs.Moh.Hatta, mantan wakil Presiden Republik Indonesia menyempatkan berkunjung ke balai ini beberapa tahun setelah beliau mengunbdurkan diri sebagai wakil Peresiden Republik Indonesia.

Tercatat dalam sejarah tahun 1950 pemerintah mendatangkan 30 ekor sapi Red Denish untuk dikembangbiakkan sebagai sumber plasma nutfah untuk dikawin silangkan dengan sapi Madura. Penyilangan pada awalnya dilakukan dengan kawin alam, tetapi sejalan dengan berkembangnya teknologi kawin suntik penyilangan dilakukan dengan teknologi IB dengan straw cair. Keturunan sapi hasil silang ini dikenal dengan sapi “emas” pakong. Mungkin karena bulunya kuning cerah keemasan, bentuk tubuh relatip lebih panjang dan “Dual Purpose” (multi guna dan dapat diperah). Walaupun sejak tahun 1970-an Balai Somalang ini fakum, sampai dengan tahun 2005 jejak keturunan sapi emas pakong masih dijumpai dan diusahakan sebagai sapi perah.

Antara tahun 1970 sampai dengan 1992 hampir tidak ada kegiatan menonjol, tanah balai hanya dimanfaatkan sebagai lahan pembibitan rumput gajah, setaria, king grass / rumput Australia. Tahun 1993 balai ini mengalami/mendapatkan perbaikan dan tambahan kandang kapasitas 40 ekor pedet sapi Madura untuk stasiun uji performance (SUP). Pedet jantan terbaik yang ada ditingkat populasi dasar dibeli dan dikirim ke Balai ini untuk dipilih yang mempunyai performance terbaik, kegiatan ini masih dalam ruang lingkup program Village Breeding Centre (VBC). Program VBC ini terhenti akibat krisis moneter 1998.

 

Kebun Rumput King Grass di lokasi BP. Somalang


Tahun 2002 Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur dan Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan bekerjasama mengembangkan sapi perah (jenis PFH). Sapi perah induk bantuan sebanyak l0 ekor masih ada sampai sekarang. Dalam sepuluh tahun terakhir hasilnya kurang memuaskan. Problem awal kegiatan ada pada pemasaran susu yang tak terserap sehingga pemerahan hanya dilakukan sekali, tetapi problem akhir-akhir ini adalah produksi susu turun dan tak berkesinambungan. Seiring dengan adanya kegiatan tersebut, upaya optimalisasi fungsi balai terus dilakukan baik yang dibiayai APBD II maupun yang bersifat swadaya, terutama berkaitan dengan Penelitian, Pengembangan, Pelatihan, Pengkajian dan Penerapan teknologi tepat guna.

 

 

Sapi perah PFH yang dipelihara di Balai Somalang


Permasalahan mendasar dari upaya pengembangan Balai ini kedepan adalah, status penguasaan Balai masih menjadi Otoritas Propinsi Jawa Timur. Status ini menyulitkan Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan dalam merencanakan kegiatan kedepan baik jangka pendek, menengah, ataupun panjang. Minimnya fasilitas yang ada yang berkaitan dengan pengamanan dan keamanan aset yang bersifat aset pokok dan aset pengembangan. Merupakan faktor pembatas utama bagi pengembangan Balai yang lebih representatif dan mandiri.

 

B. BEBERAPA KEGIATAN YANG ADA DAN PERNAH DLAKUKAN DI BALAI PETERNAKAN SOMALANG.

Selain usaha pokok berupa pembibitan dan usaha sapi perah beberapa kegiatan lain yang pernah dilakukan di balai ini adalah :

1) Pengamatan sapi jantan hasil IB (kawin silang) Madura dan Limoshine sampai umur 40 bulan (umur potong) mencapai 980 kg. Tahun 2005. Swadaya.

2) Pengamatan performance sapi jantan F2 madrasine selama 20 bulan, sampai umur 36 bulan, mencapai berat 501 kg, bentuk tubuh; kaki pendek, kurang proporsional. Tahun 2007. Swadaya.

3) Kaji terapan aplikasi pengolahan limbah padi (jerami) sebagai pakan ternak. Dan kotoran sapi faeses menjadi pupuk organik (kompos) dan Urine sapi sebagai pupuk organic Cair. (Puo Ching Sapp) tahun 2007. Swadaya.

4) Kaji terap pakan ternak lengkap (Complete Feed) pada sapi dan domba. Tahun 2007. APBD II.

5) Uji pengamatan kesuburan sapi betina Madura muda terhadap sistim kawin suntik dengan straw limoushine. Service per konsepsi (S/C), proses kelahiran (normal), dan Interval kelahiran. Tahun 2006 s/d 2008. APBD II.

6) Proyek pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biogas, dan aplikasinya sebagai bahan bakar kompor, mesin jenset atau mesin pompa air (connor). Tahun 2008.APBD II.

7) Kegiatan out bond, studi tour anak TK Al-Uswah (yang beralamat di Desa Lawangan Daya Kecamatan Pademawu ) bahkan menjadi agenda tahunan , 2009 dan 20l0 (swadaya.).

8) Uji coba dan pengamatan aplikasi limbah cair digester biogas terhadap tanaman padi faritas lokal tahun 2010. Umur panen l05 hari, produksi gabah panen 9,2 ton per ha, atau 6,2 ton per ha gabah kering giling atau 4,2 ton beras per ha. (swadaya).

9) Pengamatan dilanjutkan dengan terus mengikuti pertumbuhan (solang : Madura) sampai umur 75 hari atau nanti tgl 27 Mei 2011 diperkirakan akan panen kembali (swadaya).

 

 

 

Anak-anak Taman Kanak-Kanak bersama ibu gurunya sedang mengamati wujud sapi penghasil susu peranakan FH yang dipelihara di Balai Peternakan Somalang saat kunjungan wisata ke Balai


Dari potret kegiatan seperti diuraikan diatas, sudah tampak jelas bahwa Balai Pembibitan Somalang Pakong telah berfungsi sebagaimana mestinya. Adapun ada beberapa penilaian dari pihak lain (legislatip) misalnya, soal kontribusi terhadap PAD APBD II dll. terkendala oleh beberapa faktor pembatas yang telah diuraikan di atas. Tetapi harus jujur disampaikan bahwa beberapa kegiatan (unggulan) Dinas Peternakan banyak terinspirasi dan merupakan hasil kaji terap yang dilakukan di Balai ini.

Ibarat sebuah sketsa lukisan, pola dan guratan atau blue print pengembangan balai peternakan Somalang sudah ada, tinggal memperjelas dan mempertajam pewarnaan kelembagaan, sistem dan pendanaannya.

C. BEBERAPA ALTERNATIF PENGEMBANGAN BALAI KE DEPAN

Pola pengembangan Balai ke depan akan sangat tergantung pada aspek pendanaan, terutama yang berhubungan dengan kelengkapan sarana pengamanan (pagar), tambahan sarana produksi (kandang dan peralatannya) dan modal kerja awal apabila harus terkait dengan kontribusi pada PAD. Orientasi ke depan dapat dipilih beberapa pola atau sistem managemen yang dapat meningkatkan manfaat multi guna tanpa menghilangkan jati dirinya sebagai tempat latihan, penelitian, pengembangan, percontohan, sarana wisata agro, olahraga atau menjadi sumber inspirasi bagi setiap yang berkunjung ke balai ini. Dan yang tak kalah pentingnya Balai ini dapat menjadi tempat “Kiblat” rujukan bagi peternak dan menjadi “kawah Canradimuka/Penggodokan” bagi kader pimpinan/karyawan di Dinas Peternakan yang akan datang.

D. TAMAN AGROWISATA BUMI SOMALANG SEBAGAI ALTERNATIF

Filosofi gagasan menjadikan Balai Peternakan Somalang, Pakong sebagai “Taman Agrowisata Bumi Somalang “ adalah adanya realita bahwa Pamekasan khususnya dan Madura pada umumnya Miskin Tempat Wisata. Adanya kesan dan pesan yang disampaikan oleh mereka yang telah mengunjungi tempat ini agar dikelola dan dikembangkan lebih baik, mengingat nilai historis sebagai “ Monumen” Sejarah Perjalanan Pembangunan Peternakan di Indonesia.

Sebenarnya “konsep sebagai Taman Agrowisata” mulai diperkenalkan sejak tahun 2003. Mulai dari kemasan semua produk balai ini, dari susu, pupuk Compos, Jamu sehat sapi, sudah mulai ditampilkan, tapi karena status balai ini yang masih menjadi otoritas Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur, dan kurang adanya dukungan dari “atas”, Insyallah Tahun ini adalah tahun terakhir adanya kegiatan yang ada di Balai Peternakan Somalang Karena Komisi B DPRD Pamekasan sejak tahun lalu mengisyaratkan penghentian (anggaran) kegiatan pokok di Balai ini (pembibitan sapi perah) yang ”dipandang” tidak ekonomis, inefisien dan “merugikan”.

 

E. PENUTUP

Apa yang telah diuraikan dalam tulisan ini, merupakan studi literature,interviu dengan mantan pegawai Balai angkatan pertama (pak Lampos) dan sesepuh masyarakat sekitar Balai serta pengalaman penulis selama 22 tahun bertugas sebagai pelaksana kegiatan di Balai Peternakan Somalang. Perjalanan kedepan diperlukan komitmen kuat dan kemauan politik Bapak Bupati, Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur. Untuk secepatnya menentukan kemana arah rencana pengembangan balai ke depan, bukan hal yang sulit kalau kita semua mau mengapresiasi nilai sejarah dan peran balai selama ini. Kita semua yakin akan mendapatkan respon positif bapak Gubernur Jawa Timur yang mempunyai program menjadikan Madura sebagai pulau sapi.

 

Sapi perah PFH yang dipelihara di Balai Somalang

Sumber: DISNAK JATIM