RECHARGING KAPASITAS PELAKU PETERNAKAN...

RECHARGING KAPASITAS PELAKU PETERNAKAN SAPI POTONG

Rabu, 30 November 2016 | 15:08 WIB Penulis : Web Admin Dibaca : 2770 kali
recharging kapasitas


Secara diametral usaha peternakan sapi potong di Indonesia terbagi menjadi dua: peternakan rakyat dan perusahaan peternakan. Melalui dua peternak inilah, sebagian besar kebutuhan daging sapi secara nasional disuplai selama ini. Diantara keduanya, peran terbesar didominasi oleh hasil peternakan rakyat. Karenanya, betapa sentral peran peternakan rakyat dalam mensuplai kebutuhan protein hewani masyarakat selama ini.

Ada lima karakteristik pelaku usaha sapi potong kategori peternakan rakyat menurut Permentan No. 54 2006, yakni: (1) skala usaha kecil. Biasanya peternakan rakyat memelihara sapi potong dikisaran 1 – 4 ekor per rumah tangga peternak. (2) manajemen sederhana. Hal ini terjadi karena keterbatasan relatif atas pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan usaha ternak sapi. (3) pemanfaatan teknologi seadanya. Tatalaksana beternak diperoleh secara turun temurun tanpa eksplorasi detail seiring kemajuan teknologi. (4) lokasi tidak terkonsentrasi dan (5) belum menerapkan sistem dan usaha agribisnis.

Melihat kenyataan tersebut, penting adanya upaya sistematis, terstruktur dan sungguh sungguh agar kemampuan peternakan rakyat bisa meningkat. Usaha yang sebelumnya sekedar peternakan rakyat bisa meningkat menjadi perusahaan peternakan. Terlebih, telah tiga kali program swasembada daging sapi dicanangkan dan tiga kali pula program itu gagal diraih.

Sepertinya, pesan inilah yang ingin dihadirkan buku “Gerakan Pemberdayaan Petani Terpadu: materi ternak sapi potong” yang ditulis oleh para Widya Iswara Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu ini. Buku terbitan Media Nusa Creative Malang ini mengupas relatif lengkap hal ikhwal teknis usaha peternakan sapi potong.

Ada lima bab yang disuguhkan dalam buku setebal 277 halaman ini. Bab pertama, manajemen pemeliharaan ternak sapi potong. Pada bab ini, ada 29 sub bab yang dihadirkan, mulai pemeliharaan pedet baru lahir hingga pemilihan calon induk maupun pejantan. Lebih jauh, pembaca juga diajak untuk mulai berkenalan dengan konsep usahatani terintegrasi. Yakni, suatu konsep usaha tanaman, ternak dan atau ikan yang mampu berjalan dengan baik (mandiri) dengan sesedikit mungkin ketergantungan dari luar system. Sistem inilah yang seringkali disebut sebagai konsep LEISA: low external input sustainable Agriculture.

Konsep ini sebenarnya pernah diterapkan secara konsisten oleh petani/peternak Indonesia. Mereka menjadi petani tanaman pangan, hortikultura sekaligus sebagai peternak. Hasil limbah ternak dikumpulkan disuatu tempat dalam masa tertentu kemudian dimanfaatkan ke lahan lahan yang mereka miliki. Sehingga tanpa disadari,  kandungan unsur hara tanah, tekstur tanah dan komposisi mikrobiologi tanahnya sedemikian hidup dan subur. Tradisi inilah yang akhir akhir ini telah menjadi langka bagi petani peternak di Indonesia.

Pada bab kedua, pembaca digiring untuk masuk dalam pembahasan pakan dan nutrisi ternak sapi potong. Bab ini serasa sangat pokok dan penting dalam usaha ternak sapi potong. Betapa tidak! Dalam setiap usaha peternakan –Ruminansia, pseudoruminant maupun unggas– faktor pakan menempati urutan terbesar dalam masalah pengeluaran biaya usaha peternakan.

Pada bab ini, dijelaskan relatif detail tentang seluk beluk pakan ternak sapi potong. Mulai klasifikasinya, cara menyusun ransum, membuat pakan lengkap hingga pembuatan konsentrat. Tidak hanya itu, pembaca juga disuguhi informasi tentang  cara cara mengawetkan bahan pakan. Sehingga, meski sedang musim kemarau, kebutuhan pakan ternak masih bisa disuplai melalui bahan pakan yang diawetkan pada saat  musin penghujan. Teristimewa, lebih teknis dan praktis pada bab ini, penulis juga menyuguhkan cara mendeteksi pemalsuan dedak padi. Bagi peternak, wawasan semisal ini sangat penting agar peternak bisa terhindar dari kerugian akibat pengadaan bahan pakan dibawah standar.

Selanjutnya, bab ketiga tim penulis menyuguhkan tentang reproduksi ternak sapi potong. Penjelasan bab ini terasa lebih bermanfaat bagi penyuluh dan petugas teknis peternakan. Sementara, manfaat untuk peternak sapi potong sebagai pelaku terbesar dalam usaha peternakan sapi potong di Indonesia relatif kurang. Ini mengingat bahwa tingkat pendidikan pelaku peternakan umumnya yang relatif rendah. Sehingga, bahasa dan pilihan kata dalam bab ini terlalu sulit untuk dicerna mereka. Mayoritas peternak sapi potong relatif tidak kenal dengan istilah uterus, ovarium, oviduk, miometrium, silent heat, atau istilah istilah teknis reproduksi ternak sapi potong lainnya.

Namun demikian bukan berarti pada bab ini peternak tidak bisa mengambil manfaat sama sekali. Pada bab ini peternak bisa menambah pengetahuan tentang deteksi birahi ternak sapi potong dan tatacara pelaksanaan inseminasi buatan (kawin suntik). Pengetahuan ini sangat praktis bagi peternak mengingat salah satu kegagalan kebuntingan diakibatkan oleh deteksi birahi yang tidak tepat.

Sementara itu, pada bab keempat tim penulis membahas tentang kesehatan ternak sapi potong. Ada delapan belas sub bahasan yang dijelaskan pada bab ini. Bagi pelaku peternakan rakyat, paling tidak ada tiga sub bab yang bisa bermanfaat secara langsung. Yaitu sub bab pemeriksaan umum hewan, prinsip biosecurity peternakan dan menyusun program kesehatan ternak. Selebihnya, yaitu lima belas sub bab memiliki manfaat yang lebih besar bagi petugas penyuluh atau petugas teknis peternakan.

Terakhir, seolah ingin menutup dengan sempurna bahasan buku ini, tim penulis mengakhiri bahasan dengan bab pengolahan limbah ternak sapi potong. Bab kelima ini mengungkap, tak ada yang tak bisa dimanfaatkan dari ternak sapi potong. Kotoran ternak sapi yang berkonotasi limbah, ternyata bisa diolah sehingga –meminjam istilah sebagian teman– menjadi berkah.

Ada dua puluh lima sub bahasan yang dijelaskan di bab IV ini. Dan hampir seluruhnya bermanfaat secara langsung kepada peternak sapi potong. Secara umum, pembahasan pada bab ini mengangkat potensi kotoran ternak sapi potong sebagai pendukung pertanian dan peningkatan pendapatan masyarakat. Misalnya bahasan pembuatan pupuk organik padat, pupuk organik granul, membuat pupuk organik cair, membuat pestisida organik dari urine, pemanfaatan kotoran untuk biogas dan pemanfaatan slurry (limbah biogas) untuk media hidup ternak cacing maupun pupuk organik.

Pembahasan bab lima ini serasa sangat penting ditengah gencarnya gerakan kembali ke alam. Betapa tidak! Tanah yang merupakan karunia Tuhan yang harus dilestarihidupkan, perlahan tapi pasti justru berjalan kearah kerusakan. Fungsi tanah tak lebih sebagai faktor produksi yang hanya diekploitasi untuk meningkatkan hasil produksi. Tak heran jika tingkat kesuburan tanah kian hari semakin berkurang. Unsur hara tanah yang dalam kondisi normal berada pada kisaran angka 3 – 5%, dilaporkan bahwa 60% lahan di Pulau Jawa mengandung bahan organik (BO) kurang dari 1% (Balitbang Pertanian, 2009).

Indikasi perubahan dan penurunan kualitas tanah ini sebenarnya sangat mudah dirasakan. Semisal untuk jumlah produksi yang sama, dari tahun ke tahun petani membutuhkan pupuk anorganik yang kian meningkat. Sifat fisik tanah yang biasanya relatif gembur terasa kian keras dan padat. Bahkan jika ditelisik lebih jauh kandungan mikroorganisme yang hidup, keragaman dan jumlahnya kian berkurang dari kata normal.

Pada titik inilah signifikansi buku “Gerakan Pemberdayaan Petani Terpadu: Materi Ternak Sapi Potong” ini menemukan momentumnya. Sebab melalui informasi dan kajian dalam buku ini, diharapkan kesadaran untuk kembali ke alam lebih mudah tergugah. Tidak hanya bagi peternak sapi potong sebagai pelaku dominan dan utama dalam mensuplai kebutuhan daging sapi. Tapi juga bagi seluruh petugas penyuluh maupun petugas teknis peternakan sebagai fasilitator perubahan. Semoga!!!

Resensi Buku

Judul       : Gerakan Pemberdayaan Petani Terpadu : Materi Sapi Potong
Penulis    : Widya Iswara BBPP – Batu
Penerbit    : Media Nusa Creative – Malang
Cetakan    : Pertama, Februari 2016
Tebal    : viii + 277 Halaman

Peresensi    : Siswanto, S.Pt

*) Penulis adalah Pengawas Bibit Ternak (Wasbitnak)
Di Dinas Peternakan Kab. Lumajang

 

Sumber: DISNAK JATIM